Home > RUANG EDUKASI > 67 Persen Anak SD Tahu Situs Porno

67 Persen Anak SD Tahu Situs Porno

Palmerah, Warta Kota

SEBANYAK 67 persen dari 2.818 siswa kelas 4, 5, dan 6 SD di Jabodetabek yang disurvei oleh Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) mengaku—dari tahun 2008 hingga 2010—pernah mengakses situs porno. Dari jumlah itu, sekitar 24 persen mengaku melihat pornografi melalui media komik.

Selain itu, sekitar 22 persen lainnya melihat pornografi dari situs internet, 17 persen dari games, 12 persen melalui film televisi, dan 6 persen lainnya lewat telepon genggam.

Direktur YKBH, Elly Risman, dalam siaran persnya di Jakarta, Minggu (3/10), mengatakan, media komunikasi seperti komik dan games perlu diwaspadai. “Ada games baru bertema ‘permainan pemerkosaan’ yang bisa diunduh (di-download) secara gratis dari internet,” katanya.

Sementara itu, dosen Komunikasi Universitas Paramadina, Jakarta, Syafiq B Assegaff menambahkan, berbagai media komunikasi yang dikonsumsi anak-anak, seperti komik dan internet, memperbesar terpaan pornografi kepada mereka. Bahkan, pembicaraan di kalangan mereka pun sudah masuk ke wilayah yang dulu bagi orang dewasa pun sangat tabu.

“Belakangan ini anak SD pun sudah mengajukan persoalan yang berbau seksual layaknya orang dewasa,” ujar Syafiq.

Di rumah

Yang memprihatinkan, hasil survei yang dilakukan YKBH itu mengungkapkan bahwa hampir separuh dari anak-anak itu melihat pornografi justru di rumah. “Orangtua sering tidak sadar membiayai akses terhadap pornografi lewat internet, games, atau pulsa telepon genggam mereka,” ujar Syafiq, yang juga Direktur Marketing dan Public Relations Universitas Paramadina.

Selain itu, kata Syafiq, Indonesia belum memiliki therapist khusus pornografi. Padahal, penderita kecanduan pornografi itu harus segera dibantu. Bukan saja karena mentalnya akan rusak, tapi bagian otaknya pun ikut terpengaruh.

“Jika kecanduan narkoba merusak tiga bagian otak, kecanduan pornografi bisa merusak lima bagian otak. Harus ditangani secara serius sebelum terlambat menjadi fenomena gunung es,” tambah Elly.

Sedangkan Randy Hyde, ahli psikologi klinis dari Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat, mengatakan sesungguhnya korban kecanduan pornografi sangat benci terhadap kecanduan (adiksi) itu. Mereka benci terhadap kelakuannya sendiri, sehingga tidak aneh jika pencandu pornografi masih tetap cinta luar biasa kepada pasangannya. Mereka pun membutuhkan bantuan orang lain dengan kasih sayang.

Randy juga meminta pencandu pronografi tidak dihakimi atau buru-buru dihukum. “Mereka akan sangat berterima kasih nantinya jika ada yang peduli dan membantu mengobati kecanduannya tersebut,” katanya.

Tak berhasil

Upaya pemerintah memblokir situs porno tampaknya belum berhasil. Berbagai situs porno hingga kini masih bisa diakses dengan mudah.

Sejak bulan Puasa lalu Kementerian Komunikasi dan Informatika merencanakan segera mengevaluasi pemblokiran situs porno.

Masih ada beberapa pihak yang belum menyempurnakan sistem software. Mereka masih dalam tahap coba-coba. Dan, ke depan sebaiknya harus ada penyempurnaan.

Sebelum ini disebut-sebut kegagalan pemblokiran situs porno itu karena kesalahan penyedia jasa internet (internet service provider/ISP). (tar/*)

Categories: RUANG EDUKASI
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: