Home > RUANG EDUKASI > Quo Vadis Pendidikan di Jakarta dan Sekitarnya

Quo Vadis Pendidikan di Jakarta dan Sekitarnya

Sekolah adalah sebuah lembaga pendidikan yang diharapkan mampu memberikan nuansa pembelajaran bagi peserta didik selain yang telah diberikan oleh orang tua dalam rumah. Selayaknya lingkungan sekolah, tenaga pendidik dan sarana prasarana telah melalui proses penelitian, pengkoreksian atau apaun namanya sehingga layak untuk dikatakan sebagai sebuah lembaga pendidikan. Pada masa ini baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah telah mensosialisasikan bahkan menghimbau orangtua yang memiliki anak usia sekolah untuk tetap menempuh sekolah atau orang tua diharapkan untuk menyekolahkan anak-anak mereka, dengan tanda petik sesuaikan dengan kemampuan yang di miliki.

Sudah bukan merupakan rahasia umum, apabila ingin memperoleh pendidikan atau sekolah yang baik dan nyaman bagi peserta didiknya, harus merogoh kocek yang dalam. Jadi jangan bermimpi untuk mendapatkan sekolah yang layak dengan fasilitas yang memadai hanya dengan merogoh kocek yang sedikit.Ada satu anekdot yang sering kita dengar yaitu mau selamat kok bayar murah. Fenomena pendidikan ini banyak kami lihat di Jakarta dan sekitarnya, Jakarta yang notabene biaya pendidikan sangat-sangat mahal, tetapi apa bukti kermahalan biaya tersebut tidaklah menjamin jakarta menjadi yang terbaik dalam beberapa olimpiade science di beberapa negara di dunia, nyatanya banyak pemenang dari olimpiade tersebut tidak berasal dari jakarta, tetapi didominasi oleh putra-putra daerah. Dengan membandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan oleh orangtua di daerah dengan di Jakarta dapatlah diketahui begitu fantastis perbedaannya. Baik dari segi biaya, mutu guru, mutu sekolah sebagai tempat belajar maupun fasilitas yg dikatakan jakarta dan sekitarnya lebih baik.

Tapi mana buktinya ? Jujur saja guru didaerah dapat dikatakan lebih fokus dalam memberikan atau menurunkan ilmu yang dimilki kepada anak didiknya, mereka banyak yang harus menempuh jarak dan waktu yang begitu lama untuk dapat memberikan ilmu yang dimiliki kepada murid-muridnya. Sedangkan disini guru atau tenaga pendidik (atau bisa dikatakan oknum) beralasan dengan himpitan atau kebutuhan hidup yang begitu tinggi, sehingga ia harus atau dituntut untuk memberikan les untuk mendapatkan biaya tambahan hidupnya atau bahkan berbisis dengan menjual sejumlah buku atau peralatan sekolah lainnya yang harus dibeli oleh wali murid, tetapi kami rasa apabila ia dapat menyesuaikan dengan gaya hidup sederhana atau standart akan cukup membiayai hidup mereka. Kami setuju gaji guru dinaikkan, tetapi harus juga diikuti dengan kualitas mendidik yang baik, oleh karena itu sebelum seorang guru diangkat, harus juga melalui proses vit and proper test, sehingga guru yang direkrut adalah seorang yg mempunyai jiwa pendidik bukan preman.

Belum lagi lingkungan yang mempengaruhi. SAdar atau tidak, lingkungan sekolah di Jakarta dan sekitarnya sebagian besar kurang sejalan dengan tujuan pendidikan. Sebagai contoh sekolah yang dikepung dengan lingkungan atau dunia hiburan yang tidak layak untuk perkembangan psikologi anak didik. Belum lagi pengaruh narkotika, pergaulan bebas, praktek-praktek amoral maupun contoh pelanggaran etika yang setiap saat dapat ditemui baik pada saat seorang anak didik berangkat ke sekolah sampai dengan kembali dari sekolah. Lalu siapakah yang bertanggungjawab pada perkembangan psikologi dan mental anak tersebut ? Apakah pihak sekolah dapat dimintai pertanggungjawaban atau pihak terkait lainnya ? Apa tindakah sekolah dalam meminimalisir pengaruh buruk tersebut. Carut marut pendidikan kita terkadang dirasakan pesimis akan mengalami perubahan yang positif. Belum lagi ada beberapa sekolah yang memaksakan menerima murid dengan tidak memperhatikan kapasitas yang dapat diterima sebuah sekolah. Setiap tahun menerima murid tetapi tidak menambah fasilitas, sehingga terjadi penumpukan murid.

Contoh tersebut banyak terjadi, tetapi hal tersebut merupakan tanggungjawab siapa ? Apakah depdiknas tidak menilik atau senantiasa mengawasi setiap sekolah yang ada di lingkungannya. Misalnya di daerah ciputat tangerang, terdapat satu SD yang seharusnya tidak layak lagi untuk menerima murid, tetapi dengan alasan banyak animo yang belum tertampung, sehingga terpaksa menerima nya. Sedangkan daya tampung sekolah tersebut tidak memadai. Belum lagi adanya -penyimpangan dalam pemberian sumbangan sekolah. Sebelum masuk sekolah tersebut, para wali murid diminta untuk menandatangisurat yang menyatakan sebagai memberikan sumbangan yang diberikan secara suka rela dengan jumlah yang telah ditentukan dari sekolah. LAlu apa peran Depdiknas, menurut informasi sekolah sudah tidak ada lagi sumbangan, alias gratis tapi tetap dipungut biaya. Begitunya fenomena yang terjadi saat ini. Para orangtua serasa tidak berdaya menghadapi situasi demikian, hal tersebut dtetap dilakukan oleh orangtua karena mereka menginginkan sang buah hati menerima pendidikan yang layak. Lalu kalau demikian quo vadis pendidikan ?
Saya dewi setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada c
opyopyright). .right). .

Categories: RUANG EDUKASI
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: