Home > BPPK Jaktim > Perlukah Evaluasi BPPK di DKI Jakarta?

Perlukah Evaluasi BPPK di DKI Jakarta?

SUNDAY, 31 AUGUST 2008
1. Evaluasi
Pemahaman mengenai pengertian evaluasi dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian evaluasi yang bervariatif oleh para pakar evaluasi. Pengertian evaluasi menurut Stufflebeam yang di kutip oleh Ansyar (1989) bahwa evaluasi adalah proses memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk mempertimbangkan alternatif-alternatif pengambilan keputusan. Selanjutnya The joint committee on Standars For Educational Evaluation (1994)1, mendefinisikan bahwa evaluasi sebagai kegiatan investigasi yang sistematis tentang keberhasilan suatu tujuan. Sedangkan Djaali, Mulyono dan Ramli (2000) mendefinisikan bahwa Evaluasi sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan standar objektif yang telah ditetapkan kemudian diambil keputusan atas obyek yang dievaluasi. Rutman and Mowbray 1983, mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan.
Chelimsky (1989), mendefinisikan evaluasi adalah uatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Wirawan (2006) Evaluasi adalah proses mengumpulkan dan menyajikan informasi mengenai objek evaluasi, menilainya dengan standar evaluasi dan hasilnya dipergunakan untuk mengambil keputusan mengenai objek evaluasi. Dari definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, selanjutnya menyajikan informasi dalam rangka pengambilan keputusan terhadap implementasi dan efektifitas suatu program.
Evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang  tepat pula. Evaluasi program sangat penting dan bermanfaat terutama bagi pengambil keputusan. Alasannya adalah dengan masukan hasil  evaluasi  program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tindak  lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan.
Hal terpenting dan perlu ditekankan dalam menentukan program, yaitu:
Realisasi atau implementasi suatu kebijakan,
Terjadi dalam waktu yang relatif lama, karena merupakan kegiatan berkesinambungan,
Terjadi dalam organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
Adapun kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil evaluasi suatu program, keputusan yang diambil diantaranya: Menghentikan program, karena dipandang program tersebut tidak ada manfaatnya atau tidak dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkan. Merevisi program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai dengan harapan. Melanjutkan program, karena pelaksanaan program menunjukkan segala sesuatunya sudah berjalan dengan harapan. Menyebarluaskan program, karena program tersebut sudah berhasil dengan baik maka sangat baik jika dilaksanakan lagi di tempat waktu yang lain.
Secara umum  alasan dilaksanakannya program evaluasi yaitu;
Pemenuhan ketentuan undang-undang dan peraturan pelaksanaannya,
Mengukur efektivitas dan efesiensi program,
Mengukur pengaruh, efek sampingan program,
Akuntabilitas pelaksanaan program,
Akreditasi program,
Alat mengontrol pelaksanaan program,
Alat komunikasi dengan stakeholder program,
Keputusan mengenai program;
a.    Diteruskan
b.    Dilaksanakan di tempat lain
c.    Diubah
d.    Dihentikan
Untuk mempermudah mengidentifikasi tujuan evaluasi program, kita perlu memperhatikan unsur-unsur dalam kegiatan pelaksanaannya yang terdiri dari:
a. What yaitu apa yang akan di evaluasi
b. Who yaitu siapa yang akan melaksanakan evaluasi
c. How yaitu bagaimana melaksanakannya
Dengan memperhatikan pada tiga unsur kegiatan tersebut, ada tiga komponen paling sedikit yang dapat dievaluasi: tujuan, pelaksana kegiatan dan prosedur atau teknik pelaksanaan.
Didalam evaluasi program pendidikan terdapat ketepatan model evaluasi yang berarti ada keterkaitan yang erat antara evaluasi program dengan jenis program yang dievaluasi.  Dan jenis program ini dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
a.    Program pemrosesan, maksudnya adalah program yang kegiatan pokoknya mengubah bahan mentah (input) menjadi bahan jadi sebagai hasil proses (output).
b.    Program layanan, maksudnya adalah sebuah kesatuan kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu sehingga merasa puas dengan tujuan program.
c.    Program umum, maksudnya adalah sebuah program yang tidak tampak apa yang menjadi ciri utamanya.
Seperti halnya penelitian, evaluasi program memerlukan proposal dan rancangan evaluasi. Perbedaan antara proposal evaluasi program dan rancangan evaluasi program terletak pada tekanan isinya. jika proposal merupakan usulan kegiatan maka, rancangan merupakan peta perjalanan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh evaluator dalam melaksanakan evaluasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merancang perencanaan evaluasi adalah sebagai berikut:
Analisis kebutuhan, merupakan sebuah proses penting bagi evaluasi program  karena melalui kegiatan ini akan  dihasilkan gambaran yang jelas tentang kesenjangan antara hal atau kondisi nyata dengan kondisi yang   diinginkan. Analisis kebutuhan dilakukan dengan sasarannya adalah siswa, kelas atau sekolah.
Menyusun proposal evaluasi program, dengan memperhatikan butir sebagai berikut:
a.    Pendahuluan, menekankan garis besar bagian isi.
b.    Metodologi yang berisi tiga hal pokok, yaitu penentuan sumber data, metode pengumpulan data dan penentuan instrumen pengumpulan data.
c.    Penentuan instrumen evaluasi yang menekankan pada alat apa yang diperlukan untuk mengumpulkan data, hal tersebut biasanya harus disesuaikan dengan metode yang sudah ditentukan oleh evaluator.
Secara garis besar evaluasi program dilaksanakan melalui beberapa tahapan: tahap persiapan evaluasi program, tahap pelaksanaan evaluasi program dan tahap monitoring pelaksanaan program.
Analisis data dalam evaluasi program pendidikan dapat dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut:
Tabulasi data, merupakan sebuah pengolahan dan pemrosesan hingga menjadi tabel dengan tujuan agar mudah saat melakukan analisis. Tabulasi ini berisikan variabel-variabel objek yang akan diteliti dan angka-angka sebagai simbolisasi (label) dari kategori berdasarkan variabel-variabel yang akan diteliti.
Pengolahan data, kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan setelah data terkumpul dan ditabulasi. Dari pengolahan data ini dapat diperoleh keterangan/informasi yang bermakna atas sekumpulan angka, simbol, atau tanda-tanda yang didapatkan dari lapangan.
Pengolahan data dengan komputer, merupakan kemudahan bagi peneliti bila objek yang diteliti memiliki variabel banyak dan sangat kompleks, hanya dengan memasukkan coding sheet langsun memprosesnya maka hasilnya akan diperoleh cepat.
Tolok ukur hasil pendidikan dapat diketahui dengan adanya evaluasi, evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai pengukuran atau penilaian hasil belajar-mengajar, padahal antara keduanya punya arti yang berbeda meskipun saling berhubungan. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dan satu ukuran (kuantitatif), sedangkan menilai berarti mengambil satu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (kualitatif). Adapun pengertian evaluasi meliputi keduanya.
Meskipun sekarang memiliki makna yang lebih luas, namun pada awalnya pengertian evaluasi pendidikan selalu dikaitkan dengan prestasi belajar siswa. seperti definisi yang pertama dikembangkan oleh Ralph Tyler (1950) beliau mengatakan, bahwa evaluasi merupakan proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum ada dan apa sebabnya. Untuk definisi yang lebih luas dikemukakan oleh dua orang ahli lain yaitu Cronbach dan Stufflebeam,  definisi tersebut adalah bahwa proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan.
Program Diklat
Pendidikan di sekolah merupakan sebuah sistem; terdiri atas input, process dan output. Input atau masukan adalah lulusan SMP/MTs yang menjadi peserta didik SMK, Process merupakan kegiatan pemelajaran, sedangkan output atau keluaran adalah lulusan SMK yang kompeten. Pada proses pemelajaran, peserta didik mengikuti program pendidikan dan pelatihan (diklat) dengan acuan kurikulum.
Penysunan program penyelenggaraan diklat secara makro diawali dari pengkajian perlu tidaknya membuka atau menutup suatu program keahlian yang merupakan tindak lanjut program re-engineering, dilanjutkan dengan penyesuaian kurikulum dalam rangka memenuhi kebutuhan daerah, proses pemelajaran, pelaksanaan uji dan sertifikasi kompetensi dan diakhiri dengan penyaluran tamatan.
Alur penyelenggraaan diklat dimaksudkan untuk memberi kerangka berfikir dan kerangkan kerja yang sistematis pada setiap kegiatan. Hal ini dilakukan agar kedudukan, hubungan, dan kontribusi dari setiap kegiatan terhadap pencapaian tujuan diklat, yakni lulusan bersertifikat kompetensi atau bersertifikat profesi menjadi jelas.
Alur Penyelenggaraan Diklat
Melalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor: 118 tahun 2002 tertanggal 28 Agustus telah terbentuk Unit Pelaksana Teknis dilingkungan Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi yaitu Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan (BPPK).
BPPK mempunyai tugas melaksanakan pelatihan dan praktik kejuruan teknologi dan industri, bisnis dan manajemen, pariwisata, dan kejuruan lainnya sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
Dalam menyelenggarakan pelayanan praktik siswa SMK,  BPPK mempunyai tugas dan fungsi pokok (Tupoksi) ;
a.    Penyusunan rencana program pelatihan dan praktik kejuruan teknologi industri, bisnis dan manajemen, pariwisata, dan kejuruan lainnya sesuai dengan kurikulum yang berlaku,
b.    Pelaksanaan pelatihan dan praktik kejuruan teknologi industri, bisnis dan manajemen, pariwisata, dan kejuruan lainnya sesuai dengan kurikulum yang berlaku,
c.    Pelaksanaan dan bimbingan teknis hubungan kerjasama dengan dunia usaha, dunia industri, asosiasi profesi, orang tua siswa dan masyarakat.  Pelaksanaan uji kompetensi dan sertifikat kejuruan bekerjasama dengan asosiasi profesi atau dunia usaha dan dunia industri yang relevan.
d.    Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan terhadap pelaksanaan program pelatihan dan praktik siswa.
e.    Pelaksanaan pengurusan alat perlengkapan dan bahan praktik yang dipergunakan untuk kegiatan pelatihan dan praktik siswa.
f.    Pelaksanaan kerjasama dan kewirausahaan untuk pelaksanaan pelatihan dan praktik kejuruan
g.    Pelaksanaan kegiatan ketatausahaan.
Di Jakarta terdapat lima BPPK, yaitu:
BPPK Budi Utomo untuk melayani Wilayah Jakarta Pusat dengan program keahlian; Teknik Mesin Perkakas, Teknik Mesin Industri, Teknik Mekanik Otomotif, Teknik Listrik Industri, Teknik Rekayasa Perangkat Lunak, Teknik Multimedia, Teknik Komputer dan Jaringan, Akuntansi, Penjualan
BPPK Kampung Jawa untuk melayani Wilayah Jakarta Barat, dengan program keahlian; Teknik Bangunan, Teknik Mesin Perkakas, Teknik Mesin Industri, Teknik Elektro, Teknik Mekanik Otomotif
BPPK Pulogadung untuk melayani Wilayah Jakarta Utara, dengan program keahlian; Teknik Bangunan, Teknik Mesin Perkakas, Teknik Mesin Industri, Teknik Elektro, Teknik Mekanik Otomotif, Teknologi Informatika
BPPK Duren Sawit untuk melayani Wilayah Jakarta Timur, dengan program keahlian; Teknik Bangunan, Teknik Mesin Perkakas, Teknik Mesin Industri, Teknik Elektro, Teknik Mekanik Otomotif
BPPK Lenteng Agung untuk melayani Wilayah Jakarta Selatan, dengan program keahlian; Akuntansi, Sekretaris dan Penjualan.
Program Diklat yang ada di Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan  Propinsi DKI Jakarta, berorientasi kepada pelayanan praktik SMK-SMK yang belum mempunyai peralatan praktik yang memadai. Adapun Program Diklat yang dibuka pada Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan Propinsi DKI Jakarta  secara umum adalah:
Program Diklat Teknik Bangunan Gedung
Program Diklat Teknik Elektronika dan Teknik Listrik
Program Diklat Teknik Mesin Produksi dan Teknik Otomotif
Program Diklat Teknik Informasi dan Komputer Jaringan.
Program Diklat Sekretaris,Akuntansi dan Penjualan
Khusus kaitannya dengan  program diklat keahlian teknik pemesinan, di BPPK telah melaksanakan program ini sejak tahun 1978. Sebelumnya masih bernama Balai Pelatihan Ketrampilan Teknik Kejuruan (BPKPT) dibawah Biro Bintal Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan telah bertahun-tahun melayani siswa praktik SMK. Sedangkan sejak tahun 2004 berubah bentuk menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Dikmenti Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan Surat Keputusan No. 118 tahun 2004 yang di tandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta, akan tetapi program diklat keahlian teknik pemesinan dalam melayani praktik siswa SMK telah berjalan lebih dari dua puluh tahun, walau nama instansinya telah berubah tapi esensinya masih tetap sama yaitu melayani siswa SMK praktik pada BPPK yang ada dimasing-masing wilayah penyelenggara, peranannya dirasakan semakin penting karena hampir dipastikan tidak setiap SMK yang berdiri mampu memiliki peralatan praktik sesuai dengan kebutuhan yang di inginkan dunia usaha atau dunia industri.  Akan tetapi BPKPT atau BPPK yang ada saat ini belum di maksimalkan pemanfaatannya oleh SMK yang berada di DKI Jakarta, banyak hal yang perlu dikondisikan dan didiskusikan peranannya di masa yang akan datang.  Banyak alternatif pengembangan yang telah dirumuskan diantaranya hasil rapat kerja antar BPPK pada bulan Desember tahun 2004, dirumuskan program ke depan BPPK Provinsi DKI Jakarta dengan penyusunan rencana program bersama, untuk;
Jangka Menengah
Melengkapi peralatan praktik sesuai dengan tuntutan kompetensi
Tempat Uji Kompetensi dan Sertifikasi
Pusat belajar guru SMK (Teacher Learning Center)
Community college
Outlet pemasaran tamatan (BKK)
Jangka panjang
Pengembangan model pengajaran materi produktif
Lembaga sertifikasi kompetensi
Sebagai pusat pelatihan (Regional Center) dan pendidikan tamatan SMK maupun masyarakat umum.
Tempat kegiatan pelatihan dan pendidikan tenaga-tenaga tingkat madya yang sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri baik tingkat nasional maupun regional, dalam mengisi tenaga yang siap pakai.
Keahlian Teknik Pemesinan
Teknik Pemesinan atau Teknik Mekanik adalah ilmu teknik mengenai aplikasi dari prinsip fisika untuk analisa, desain, manufaktur dan pemeliharaan sebuah sistem mekanik. Ilmu ini membutuhkan pengertian mendalam atas konsep utama dari cabang ilmu mekanik, kinematik, termodinamik dan energi. Ahli atau pakar dari teknik mesin biasanya disebut sebagai insinyur (teknik mesin), yang memanfaatkan pengertian atas ilmu teknik ini dalam mendesain dan menganalisa pembuatan kendaraan, pesawat, pabrik industri, peralatan dan mesin industri dan lain sebagainya. teknik mesin biasanya terdiri dari konstruksi, konversi energi dan metalurgi.
Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) berbagai program keahlian yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja. Program keahlian tersebut dikelompokkan menjadi bidang keahlian sesuai dengan kelompok bidang industri atau usaha atau profesi.
Penamaan bidang keahlian dan program keahlian pada Kurikulum SMK Edisi 2004 dikembangkan mengacu pada nama bidang dan program keahlian yang berlaku pada Kurikulum SMK Edisi 1999. Jenis keahlian baru diwadahi dengan jenis program keahlian baru atau spesialisasi baru pada program keahlian yang relevan. Jenis bidang dan program keahlian ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Program produktif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi kerja sesuai standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Dalam hal SKKNI belum ada, maka digunakan standar kompetensi yang disepakati oleh forum yang dianggap mewakili dunia usaha/industri atau asosiasi profesi. Program produktif bersifat melayani permintaan pasar kerja, karena itu lebih banyak ditentukan oleh dunia usaha/industri atau asosiasi profesi. Program produktif diajarkan secara spesifik sesuai dengan kebutuhan tiap program keahlian.
Tujuan Program Keahlian Teknik Pemesinan
a)    Membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap agar kompeten;
b)    Bekerja baik secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah dalam bidang Teknik Pemesinan;
c)    Memilih karir, berkompetisi, dan mengembangkan sikap profesional dalam Program Keahlian Teknik Pemesinan ;
d)    Melanjutkan pendidikan bagi yang berminat.
Program keahlian ini menyiapkan lulusan untuk mampu:
a)    Merancang dan mengerjakan proses manufaktur mekanik, baik dengan menggunakan mesin-mesin konvensional maupun CNC dengan berpedoman pada quality, cost, dan delivery.
b)    Mempunyai pengetahuan yang mencukupi dan keahlian praktis untuk berbagai macam proses manufaktur dibidang mekanik, peralatan perkakas presisi, membuat rancangan untuk komponen maupun unit mesin secara manual maupun dengan CNC.
c)    Memiliki prinsip-prinsip kewirausahaan dan siap beradaptasi dengan kemajuan teknologi.
d)    Berkepribadian mantap, mandiri, mampu bekerjasama dan bertanggung jawab.
Program Keahlian Teknik Pemesinan menyiapkan lulusannya benar-benar kompeten didalam bidangnya. Dengan berbekal kemampuan dan pengetahuan, diharapkan para lulusan mampu untuk:
a.    Bekerja sebagai mekanik pada perusahaan yang bergerak dibidang Industri mesin dan mekanik umum baik yang menggunakan teknologi konvensional maupun CNC.
b.    Bekerja diperancangan atau pembuatan perkakas-perkakas secara presisi.
c.    Memprogram pengerjaan dengan mesin-mesin CNC;
d.    Bekerja sebagai trainer atau instruktor dalam hal keahlian teknik  permesinan.
e.    Mengerjakan pekerjaan maintenance dan Quality Control (QC)
f.    Berwirausaha.
Penelitian yang Relevan
Seperti di uraian di atas bahwa evaluasi program dalam penelitian ini berkaitan pula dengan kinerja guru di BPPK Provinsi DKI Jakarta, maka untuk meninjau relevansinya dengan penelitian lain tidak dibatasi dengan komponen CIPP saja.
Kemal, Mustafa. 2005. Hubungan Kreatifitas dan Kepuasan Kerja dengan Kinerja Guru di Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan (BPPK) Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Propinsi DKI  Jakarta, Tesis: UHAMKA Jakarta. Dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa hubungan antara kreativitas dan kinerja adalah positif dan cukup berarti dari hasil perhitungan dengan menggunakan koefesien korelasi parsial. Hubungan kreativitas dengan kinerja adalah signifikan (ry1.2=0,409). Untuk hubungan antara kepuasan kerja dan kinerja adalah positif dan cukup berarti dari masih dengan perhitungan dengan menggunakan koefesien korelasi parsial, hubungan kepuasan kerja dengan kinerja adalah signifikan (ry2.1.=0,580).  Selanjutnya hubungan  antara kreativitas dan kepuasan kerja dengan kinerja adalah positif dan kuat melalui perhitungan koefesien korelasi berganda, hubungan kreativitas dan kepuasan kerja dengan kinerja adalah signifikan (R=0,699).
Penelitian Evaluasi ini adalah termasuk jenis penelitian ekperimental. Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1) Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
Model Riset Evaluasi
Riset yang dilakukan menggunakan metodologi action research untuk meningkatkan kerangka kerja dalam penerapan data dimana obyek tersebut menjadi kajian penelitian. Action research adalah jenis metodologi riset yang dilakukan dengan secara aktif terjun langsung pada pemberi kebijakan yang akan diteliti, dalam hal ini, penulis ikut bekerja di dalam Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan. Teknik yang dilakukan dengan cara:
mengobservasi praktisi Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan
action learning
interview tak terjadwal, dan
studi informasi yang tersimpan.
Dengan melakukan action learning, penulis membuat dokumentasi terhadap setiap interaksi dengan kegiatan di Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan.  Untuk kriteria evaluasi kinerja,  riset yang penulis lakukan  adalah membuat kerangka evaluasi yaitu:
Selalu mencari cara untuk   mengatasi latar belakang masalah sesegera mungkin.
Selalu mencari cara untuk meningkatkan framework yang sudah ada untuk menunjukkan bahwa riset memiliki hasil yang menguntungkan.
Terdapat banyak model evaluasi program yang digunakan para ahli. Salah satunya adalah model CIPP (Context – input – Process – Product). Model ini dikembangkan oleh Stufflebeam, model CIPP oleh Stufflebeam 1971 (dari Ward Mitchell Cates, 1990) . Model CIPP (1971) melihat kepada empat dimensi yaitu dimensi Konteks, dimensi Input, dimensi Proses dan dimensi Produk.
Keunikan model ini adalah pada setiap tipe evaluasi terkait pada perangkat pengambil keputusan (decission) yang menyangkut perencanaan dan operasional sebuah program. Keunggulan model CIPP memberikan suatu format evaluasi yang komprehensif pada setiap tahapan evaluasi yaitu tahap konteks, masukan, proses, dan produk. Untuk memahami hubungan model CIPP dengan pembuat keputusan dan akuntabilitas dapat diamati pada visualisasi sebagai berikut:
Tipe Evaluasi
Konteks
Input
Proses
Produk
Pembuat Keputusan
Obyektif
Solusi strategi desain prosedur
Implementasi
Dihentikan Dilanjutkan Dimidifikasi Program Ulang
Akuntabilitas
Rekaman Obyektif
Rekaman pilihan strategi desain dan desain
Rekaman Proses Aktual
Rekaman pencapaian dan keputusan ulang
Evaluasi konteks mencakup analisis masalah yang berkaitan dengan lingkungan program atau kondisi obyektif yang akan dilaksanakan. Berisi tentang analisis kekuatan dan kelemahan obyek tertentu. Stufflebeam menyatakan evaluasi konteks sebagai fokus institusi yang mengidentifikasi peluang dan menilai kebutuhan (1983). Suatu kebutuhan dirumuskan sebagai suatu kesenjangan (discrepancy view ) kondisi nyata (reality) dengan kondisi yang diharapkan (ideality). Dengan kata lain evaluasi konteks berhubungan dengan analisis masalah kekuatan dan kelemahan dari obyek tertentu yang akan atau sedang berjalan. Evaluasi konteks memberikan informasi bagi pengambil keputusan dalam perencanaan suatu program yang akan on going. Selain itu, konteks juga bermaksud bagaimana rasionalnya suatu program. Analisis ini akan membantu dalam merencanakan keputusan, menentapkan kebutuhan dan merumuskan tujuan program secara lebih terarah dan demokratis. Evaluasi konteks juga mendiagnostik suatu kebutuhan yang selayaknya tersedia sehingga tidak menimbulkan kerugian jangka panjang ( Isaac and Michael:1981)
Evaluasi input meliputi analisis personal yang berhubungan dengan bagaimana penggunaan sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif strategi yang harus dipertimbangkan untuk mencapai suatu program. Mengidentifikasi dan menilai kapabilitas sistem, anternatif strategi program, desain prosedur untuk strategi implementasi, pembiayaan dan penjadwalan. Evaluasi masukan bermanfaat untuk membimbing pemilihan strategi program dalam menspesifikasikan rancangan prosedural. Informasi dan data yang terkumpul dapat digunakan untuk menentukan sumber dan strategi dalam keterbatasan yang ada. Pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana rencana penggunaan sumber-sumber yang ada sebagai upaya memperoleh rencana program yang efektif dan efisien.
Evaluasi proses merupakan evaluasi yang dirancang dan diaplikasikan dalam praktik implementasi kegiatan. Termasuk mengidentifikasi permasalahan prosedur baik tatalaksana kejadian dan aktifitas. Setiap aktivitas dimonitor perubahan-perubahan yang terjadi secara jujur dan cermat. Pencatatan aktivitas harian demikian penting karena berguna bagi pengambil keputusan untuk menentukan tindak lanjut penyempurnaan. Disamping itu catatan akan berguna untuk menentukan kekuatan dan kelemahan atau program ketika dikaitkan dengan keluaran yang ditemukan. Tujuan utama evaluasi proses seperti yang dikemukakan oleh Worthen and Sanders(1973), yaitu:
a.    Mengetahui kelemahan selama pelaksanaan termasuk hal-hal yang baik untuk dipertahankan,
b.    Memperoleh informasi mengenai keputusan yang ditetapkan, dan
c.    Memelihara catatan-catatan lapangan mengenai hal-hal penting saat implementasi dilaksanakan.
Evaluasi produk merupakan kumpulan deskripsi dan “judgement outcomes” dalam hubungannya dengan konteks, input, dan proses, kemudian di interprestasikan harga dan jasa yang diberikan ( Stuflebeam and Shinkfield : 1986). Evaluasi produk adalah evaluasi mengukur keberhasilan pencapaian tujuan. Evaluasi ini merupakan catatan pencapaian hasil dan keputusan-keputuasan untuk perbaikan dan aktualisasi. Aktivitas evauasi produk adalah mengukur dan menafsirkan hasil yang telah dicapai. Pengukuran dkembangkan dan di administrasikan secara cermat dan teliti. Keakuratan analisis akan menjadi bahan penarikan kesimpulan dan pengajuan saran sesuai standar kelayakan. Secara garis besar, kegiatan evaluasi produk meliputi kegiatan penetapan tujuan operasional program, kriteria-kriteria pengukuran yang telah dicapai, membandingkannya antara kenyataan lapangan dengan rumusan tujuan, dan menyusun penafsiran secara rasional.
Analisis produk ini diperlukan pembanding antara tujuan, yang ditetapkan dalam rancangan dengan hasil program yang dicapai. Hasil yang dinilai dapat berupa skor tes, prosentase, data observasi, diagram data, sosiometri dan sebaginya yang dapat ditelusuri kaitanya dengan tujuan-tujuan yang lebih rinci. Selanjutnya dilakukan analisis kualitatif tentang mengapa hasilnya seperti itu.
Keputusan-keputusan yang diambil dari penilaian implementasi pada setiap tahapan evaluasi program diklasifikasikan dalam tiga katagori yaitu rendah, moderat, dan tinggi.
Model CIPP merupakan model yang berorientasi kepada pemegang keputusan. Model ini membagi evaluasi dalam empat macam, yaitu:
Evaluasi konteks melayani keputusan perencanaan, yaitu membantu merencanakan pilihan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai dan merumuskan tujuan program.
Evaluasi masukan untuk keputusan strukturisasi yaitu menolong mengatur keputusan menentukan sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif yang diambil, rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan, serta prosedur kerja untuk mencapai tujuan yang dimaksud.
Evaluasi proses melayani keputusan implementasi, yaitu membantu keputusan sampai sejauh mana program telah dilaksanakan.
Evaluasi produk untuk melayani daur ulang keputusan. Keunggulan model CIPP merupakan system kerja yang dinamis.
Keempat macam evaluasi tersebut divisualisasikan sebagi berikut:
Model CIPP
Bentuk pendekatan dalam melakukan evaluasi yang sering digunakan yaitu pendekatan eksperimental, pendekatan yang berorientasi pada tujuan, yang berfokus pada keputusan, berorientasi pada pemakai dan pendekatan yang responsive yang berorientasi terhadap target keberhasilan dalam evaluasi.
Jenis  konsep evaluasi diantaranya ; yaitu evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan selama program itu berjalan untuk memberikan informasi yang berguna kepada pemimpin program untuk perbaikan program. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program untuk memberikan informasi konsumen tentang manfaat atau kegunaan program.
Bentuk kegiatan dalam evaluasi adalah evaluasi internal dan eksternal. Evaluasi internal dilakukan oleh evaluator dari dalam proyek sedangkan eksternal dilakukan evaluator dari luar institusi.
Komponen Evaluasi Program
Menurut Arikunto (1999: 290) “Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat keberhasilan program”. Ada beberapa pengertian tentang program itu sendiri, diantaranya program adalah rencana dan kegiatan yang direncanakan dengan seksama. Jadi dengan demikian melakukan evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan. Yang menjadi titik awal dari kegiatan evaluasi program adalah keingintahuan penyusun program untuk melihat apakah tujuan program sudah tercapai atau belum. Jika sudah tercapai bagaimana kualitas pencapaian kegiatan tersebut, jika belum tercapai bagaimanakah dari rencana kegiatan yang telah dibuat yang belum tercapai, apa sebab bagian rencana kegiatan tersebut belum tercapai, adakah faktor lain yang mempengaruhi ketidakberhasilan program tersebut.
Untuk menentukan seberapa jauh target program sudah tercapai, yang menjadikan tolak ukur adalah tujuan yang sudah dirumuskan dalam tahap perencanaan kegiatan sebelumnya. Sasaran evaluasi adalah untuk mengetahui keberhasilan suatu program. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ansyar (1989: 134) bahwa “evaluasi mempunyai satu tujuan utama yaitu untuk mengetahui berhasil tidaknya suatu program.”
Model CIPP yang dikembangkan oleh Stuflebeam and Shinkfield (1986), yang memfokuskan kepada empat komponen evaluasi yaitu; komponen konteks, komponen input, komponen proses dan komponen produk perlu ditinjau dan di evaluasi sampai sejauhmana efektivitasnya.
Efektifitas dipahami sebagai rangkaian proses dan produk untuk melakukan hal-hal yang tepat atau menyelesaikan sesuatu dengan pas (Stonner, Freeman, dan Gilbert: 1995). Secara operasional, efektivitas dipahami sebagai suatu kondisi yang menampilkan tingkatan keberhasilan suatu program sesuai standar yang sudah ditetapkan (Koontz dan Weilirch: 1988). Cara untuk mengetahui tingkatan efektivitas dilakukan dengan mengukur komponen konteks, input, proses dan produk kemudian dibandingkan dengan standar objektif yang ditetapkan. Efektivitas dikategorikan pada tingkatan rendah, moderat dan tinggi.
Atas dasar masalah penelitian dan landasan teori serta deskripsi program, maka dibangun suatu kerangka acuan yang melibatkan empat komponen evaluasi model CIPP. Keempat komponen evaluasi memiliki cakupan konseptual yang merupakan sumber rujukan pengembangan ke arah indikator penelitian.
1. Komponen Konteks
Komponen konteks berisi tentang analisis yang berkaitan dengan lingkungan program. Termasuk didalamnya analisis kekuatan dan kelemahan objek tertentu. Stufflebeam menyatakan evaluasi konteks sebagai fokus institusi yaitu mengidentifikasi peluang dan menilai kebutuhan. Dalam kaitannya dengan program diklat keahlian teknik pemesinan dipandang dari tiga poin penting yaitu:
a.    Tujuan, landasan, dan pembinaan program, mencakup analisis tujuan, landasan hukum dan pembinaan program diklat keahlian teknik pemesinan dari tingkat pusat hingga pelaksanaan di wilayah. Kemudian
b.    Studi kelayakan pada balai yang mencakup kekuatan, kelemahan, dan peluang serta ancaman yang dimiliki BPPK sebagai penyelenggara.
2. Komponen Input
a. Siswa.iswa peserta diklat keahlian teknik pemesinan adalah siswa yang   telah membekali dirinya dengan kompetensi dasar berupa kompetensi kerja bangku yang dipersyaratkan oleh kelompok bidang keahlian teknologi dan industri.
b. Guru praktik. Guru praktik di bengkel kerja merupakan guru khusus yang diseleksi dengan beberapa kriteria, seperti: tingkat pendidikan S1, mengajar praktik  sesuai bidangnya, pengalaman mengajar sekurangnya lima tahun pada bengkel kerja.
c. Kurikulum. Kurikulum berisi pilihan sub kompetensi yang dirancang diselesaikan pada setiap jenjang kompetensi. Strategi belajar diarahkan pada belajar tuntas dengan memperhatikan keselarasan dan keseimbangan  secara terpadu.
d. Sarana dan prasarana.Keberadaan sarana dan prasarana perlu dilihat kelayakannya sehingga memiliki daya dukung pada pelaksanaan program diklat keahlian teknik pemesinan secara memadai. Indikator – indikator yang dapat dijabarkan meliputi; Prasarana ruang praktik, ruang bengkel kerja, kantin, aula, toilet. Sarana pendukung praktik meliputi: sumber belajar, media belajar , peralatan praktik dan job sheet.
e. Kalender Akademik. Kalender Akademik program diklat keahlian teknik pemesinan yang dijadikan pedoman kegiatan selama dua tahun perlu untuk dikaji efektivitasnnya.
3. Komponen  Proses
Kegiatan pembelajaran dibengkel kerja selama siswa praktik, dengan Indikatorp-indikatornya adalah sebagai berikut:
(a) Presensi, (b) penampilan, (c) penguasaan kelas, (d) penguasaan materi praktik, (e) kemampuan menyajikan, (f) sistematika penyajian, (g) penggunaan bahasa,(h) pemilihan metode dan media, (i) simpati, gaya dan sikap terhadap siswa, (j) penampilan, (k) pemberian motivasi, (l) cara menjawab pertanyaan siswa, (m) kerjasama dengan siswa, (n) intensitas tugas, (o) alat evaluasi, (p) umpan balik
4. Komponen  Produk
a.    Nilai    kompetensi    dasar   untuk   kompetensi kerja bangku, Untuk mengungkap efektivitas produk program keahlian teknik diperlukan nilai kompetensi dasar kerja bangku, untuk analisis dasar dimulainya penjenjangan kompetensi berikutnya.
b.    Hasil ujian kompetensi keahlian (UUK) nasional, Untuk mengungkapkan korelasi kompetensi dasar yang dimiliki siswa, dengan kompetensi yang dipersyaratkan pada program diklat keahlian teknik pemesinan.
c.    Ujian Akhir Nasional SMK yang praktik di BPPK. Dimanfaatkan untuk mengukur secara keseluruhan keberhasilan siswa kaitannya dengan program keahlian yang ditempuhnya.

Perlukah Evaluasi BPPK di DKI Jakarta?  Written by Administrator   SUNDAY, 31 AUGUST 20081. Evaluasi
Pemahaman mengenai pengertian evaluasi dapat berbeda-beda sesuai dengan pengertian evaluasi yang bervariatif oleh para pakar evaluasi. Pengertian evaluasi menurut Stufflebeam yang di kutip oleh Ansyar (1989) bahwa evaluasi adalah proses memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk mempertimbangkan alternatif-alternatif pengambilan keputusan. Selanjutnya The joint committee on Standars For Educational Evaluation (1994)1, mendefinisikan bahwa evaluasi sebagai kegiatan investigasi yang sistematis tentang keberhasilan suatu tujuan. Sedangkan Djaali, Mulyono dan Ramli (2000) mendefinisikan bahwa Evaluasi sebagai proses menilai sesuatu berdasarkan standar objektif yang telah ditetapkan kemudian diambil keputusan atas obyek yang dievaluasi. Rutman and Mowbray 1983, mendefinisikan evaluasi adalah penggunaan metode ilmiah untuk menilai implementasi dan outcomes suatu program yang berguna untuk proses membuat keputusan.
Chelimsky (1989), mendefinisikan evaluasi adalah uatu metode penelitian yang sistematis untuk menilai rancangan, implementasi dan efektifitas suatu program. Wirawan (2006) Evaluasi adalah proses mengumpulkan dan menyajikan informasi mengenai objek evaluasi, menilainya dengan standar evaluasi dan hasilnya dipergunakan untuk mengambil keputusan mengenai objek evaluasi. Dari definisi evaluasi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa evaluasi adalah penerapan prosedur ilmiah yang sistematis untuk menilai rancangan, selanjutnya menyajikan informasi dalam rangka pengambilan keputusan terhadap implementasi dan efektifitas suatu program.
Evaluasi program adalah langkah awal dalam supervisi, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan dengan pemberian pembinaan yang  tepat pula. Evaluasi program sangat penting dan bermanfaat terutama bagi pengambil keputusan. Alasannya adalah dengan masukan hasil  evaluasi  program itulah para pengambil keputusan akan menentukan tindak  lanjut dari program yang sedang atau telah dilaksanakan.
Hal terpenting dan perlu ditekankan dalam menentukan program, yaitu:
Realisasi atau implementasi suatu kebijakan,Terjadi dalam waktu yang relatif lama, karena merupakan kegiatan berkesinambungan,Terjadi dalam organisasi yang melibatkan sekelompok orang.Adapun kebijakan yang dapat dilakukan berdasarkan hasil evaluasi suatu program, keputusan yang diambil diantaranya: Menghentikan program, karena dipandang program tersebut tidak ada manfaatnya atau tidak dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkan. Merevisi program, karena ada bagian-bagian yang kurang sesuai dengan harapan. Melanjutkan program, karena pelaksanaan program menunjukkan segala sesuatunya sudah berjalan dengan harapan. Menyebarluaskan program, karena program tersebut sudah berhasil dengan baik maka sangat baik jika dilaksanakan lagi di tempat waktu yang lain.
Secara umum  alasan dilaksanakannya program evaluasi yaitu;
Pemenuhan ketentuan undang-undang dan peraturan pelaksanaannya,Mengukur efektivitas dan efesiensi program,Mengukur pengaruh, efek sampingan program,Akuntabilitas pelaksanaan program,Akreditasi program,Alat mengontrol pelaksanaan program,Alat komunikasi dengan stakeholder program,Keputusan mengenai program;a.    Diteruskanb.    Dilaksanakan di tempat lainc.    Diubahd.    DihentikanUntuk mempermudah mengidentifikasi tujuan evaluasi program, kita perlu memperhatikan unsur-unsur dalam kegiatan pelaksanaannya yang terdiri dari: a. What yaitu apa yang akan di evaluasib. Who yaitu siapa yang akan melaksanakan evaluasic. How yaitu bagaimana melaksanakannyaDengan memperhatikan pada tiga unsur kegiatan tersebut, ada tiga komponen paling sedikit yang dapat dievaluasi: tujuan, pelaksana kegiatan dan prosedur atau teknik pelaksanaan.
Didalam evaluasi program pendidikan terdapat ketepatan model evaluasi yang berarti ada keterkaitan yang erat antara evaluasi program dengan jenis program yang dievaluasi.  Dan jenis program ini dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
a.    Program pemrosesan, maksudnya adalah program yang kegiatan pokoknya mengubah bahan mentah (input) menjadi bahan jadi sebagai hasil proses (output).b.    Program layanan, maksudnya adalah sebuah kesatuan kegiatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu sehingga merasa puas dengan tujuan program.c.    Program umum, maksudnya adalah sebuah program yang tidak tampak apa yang menjadi ciri utamanya.Seperti halnya penelitian, evaluasi program memerlukan proposal dan rancangan evaluasi. Perbedaan antara proposal evaluasi program dan rancangan evaluasi program terletak pada tekanan isinya. jika proposal merupakan usulan kegiatan maka, rancangan merupakan peta perjalanan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh evaluator dalam melaksanakan evaluasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merancang perencanaan evaluasi adalah sebagai berikut:
Analisis kebutuhan, merupakan sebuah proses penting bagi evaluasi program  karena melalui kegiatan ini akan  dihasilkan gambaran yang jelas tentang kesenjangan antara hal atau kondisi nyata dengan kondisi yang   diinginkan. Analisis kebutuhan dilakukan dengan sasarannya adalah siswa, kelas atau sekolah.Menyusun proposal evaluasi program, dengan memperhatikan butir sebagai berikut:a.    Pendahuluan, menekankan garis besar bagian isi.b.    Metodologi yang berisi tiga hal pokok, yaitu penentuan sumber data, metode pengumpulan data dan penentuan instrumen pengumpulan data.c.    Penentuan instrumen evaluasi yang menekankan pada alat apa yang diperlukan untuk mengumpulkan data, hal tersebut biasanya harus disesuaikan dengan metode yang sudah ditentukan oleh evaluator.Secara garis besar evaluasi program dilaksanakan melalui beberapa tahapan: tahap persiapan evaluasi program, tahap pelaksanaan evaluasi program dan tahap monitoring pelaksanaan program.
Analisis data dalam evaluasi program pendidikan dapat dilaksanakan melalui tahapan sebagai berikut:
Tabulasi data, merupakan sebuah pengolahan dan pemrosesan hingga menjadi tabel dengan tujuan agar mudah saat melakukan analisis. Tabulasi ini berisikan variabel-variabel objek yang akan diteliti dan angka-angka sebagai simbolisasi (label) dari kategori berdasarkan variabel-variabel yang akan diteliti.Pengolahan data, kegiatan ini merupakan kegiatan lanjutan setelah data terkumpul dan ditabulasi. Dari pengolahan data ini dapat diperoleh keterangan/informasi yang bermakna atas sekumpulan angka, simbol, atau tanda-tanda yang didapatkan dari lapangan.Pengolahan data dengan komputer, merupakan kemudahan bagi peneliti bila objek yang diteliti memiliki variabel banyak dan sangat kompleks, hanya dengan memasukkan coding sheet langsun memprosesnya maka hasilnya akan diperoleh cepat.Tolok ukur hasil pendidikan dapat diketahui dengan adanya evaluasi, evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai pengukuran atau penilaian hasil belajar-mengajar, padahal antara keduanya punya arti yang berbeda meskipun saling berhubungan. Mengukur adalah membandingkan sesuatu dan satu ukuran (kuantitatif), sedangkan menilai berarti mengambil satu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (kualitatif). Adapun pengertian evaluasi meliputi keduanya.
Meskipun sekarang memiliki makna yang lebih luas, namun pada awalnya pengertian evaluasi pendidikan selalu dikaitkan dengan prestasi belajar siswa. seperti definisi yang pertama dikembangkan oleh Ralph Tyler (1950) beliau mengatakan, bahwa evaluasi merupakan proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai. Jika belum, bagaimana yang belum ada dan apa sebabnya. Untuk definisi yang lebih luas dikemukakan oleh dua orang ahli lain yaitu Cronbach dan Stufflebeam,  definisi tersebut adalah bahwa proses evaluasi bukan sekedar mengukur sejauh mana tujuan tercapai, tetapi digunakan untuk membuat keputusan.
Program Diklat
Pendidikan di sekolah merupakan sebuah sistem; terdiri atas input, process dan output. Input atau masukan adalah lulusan SMP/MTs yang menjadi peserta didik SMK, Process merupakan kegiatan pemelajaran, sedangkan output atau keluaran adalah lulusan SMK yang kompeten. Pada proses pemelajaran, peserta didik mengikuti program pendidikan dan pelatihan (diklat) dengan acuan kurikulum.
Penysunan program penyelenggaraan diklat secara makro diawali dari pengkajian perlu tidaknya membuka atau menutup suatu program keahlian yang merupakan tindak lanjut program re-engineering, dilanjutkan dengan penyesuaian kurikulum dalam rangka memenuhi kebutuhan daerah, proses pemelajaran, pelaksanaan uji dan sertifikasi kompetensi dan diakhiri dengan penyaluran tamatan.
Alur penyelenggraaan diklat dimaksudkan untuk memberi kerangka berfikir dan kerangkan kerja yang sistematis pada setiap kegiatan. Hal ini dilakukan agar kedudukan, hubungan, dan kontribusi dari setiap kegiatan terhadap pencapaian tujuan diklat, yakni lulusan bersertifikat kompetensi atau bersertifikat profesi menjadi jelas.

Alur Penyelenggaraan DiklatMelalui Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta Nomor: 118 tahun 2002 tertanggal 28 Agustus telah terbentuk Unit Pelaksana Teknis dilingkungan Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi yaitu Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan (BPPK).
BPPK mempunyai tugas melaksanakan pelatihan dan praktik kejuruan teknologi dan industri, bisnis dan manajemen, pariwisata, dan kejuruan lainnya sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
Dalam menyelenggarakan pelayanan praktik siswa SMK,  BPPK mempunyai tugas dan fungsi pokok (Tupoksi) ;
a.    Penyusunan rencana program pelatihan dan praktik kejuruan teknologi industri, bisnis dan manajemen, pariwisata, dan kejuruan lainnya sesuai dengan kurikulum yang berlaku,b.    Pelaksanaan pelatihan dan praktik kejuruan teknologi industri, bisnis dan manajemen, pariwisata, dan kejuruan lainnya sesuai dengan kurikulum yang berlaku,c.    Pelaksanaan dan bimbingan teknis hubungan kerjasama dengan dunia usaha, dunia industri, asosiasi profesi, orang tua siswa dan masyarakat.  Pelaksanaan uji kompetensi dan sertifikat kejuruan bekerjasama dengan asosiasi profesi atau dunia usaha dan dunia industri yang relevan.d.    Pelaksanaan pemantauan, evaluasi dan pelaporan terhadap pelaksanaan program pelatihan dan praktik siswa.e.    Pelaksanaan pengurusan alat perlengkapan dan bahan praktik yang dipergunakan untuk kegiatan pelatihan dan praktik siswa.f.    Pelaksanaan kerjasama dan kewirausahaan untuk pelaksanaan pelatihan dan praktik kejuruang.    Pelaksanaan kegiatan ketatausahaan.Di Jakarta terdapat lima BPPK, yaitu:
BPPK Budi Utomo untuk melayani Wilayah Jakarta Pusat dengan program keahlian; Teknik Mesin Perkakas, Teknik Mesin Industri, Teknik Mekanik Otomotif, Teknik Listrik Industri, Teknik Rekayasa Perangkat Lunak, Teknik Multimedia, Teknik Komputer dan Jaringan, Akuntansi, PenjualanBPPK Kampung Jawa untuk melayani Wilayah Jakarta Barat, dengan program keahlian; Teknik Bangunan, Teknik Mesin Perkakas, Teknik Mesin Industri, Teknik Elektro, Teknik Mekanik OtomotifBPPK Pulogadung untuk melayani Wilayah Jakarta Utara, dengan program keahlian; Teknik Bangunan, Teknik Mesin Perkakas, Teknik Mesin Industri, Teknik Elektro, Teknik Mekanik Otomotif, Teknologi InformatikaBPPK Duren Sawit untuk melayani Wilayah Jakarta Timur, dengan program keahlian; Teknik Bangunan, Teknik Mesin Perkakas, Teknik Mesin Industri, Teknik Elektro, Teknik Mekanik OtomotifBPPK Lenteng Agung untuk melayani Wilayah Jakarta Selatan, dengan program keahlian; Akuntansi, Sekretaris dan Penjualan.Program Diklat yang ada di Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan  Propinsi DKI Jakarta, berorientasi kepada pelayanan praktik SMK-SMK yang belum mempunyai peralatan praktik yang memadai. Adapun Program Diklat yang dibuka pada Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan Propinsi DKI Jakarta  secara umum adalah:
Program Diklat Teknik Bangunan GedungProgram Diklat Teknik Elektronika dan Teknik ListrikProgram Diklat Teknik Mesin Produksi dan Teknik OtomotifProgram Diklat Teknik Informasi dan Komputer Jaringan.Program Diklat Sekretaris,Akuntansi dan PenjualanKhusus kaitannya dengan  program diklat keahlian teknik pemesinan, di BPPK telah melaksanakan program ini sejak tahun 1978. Sebelumnya masih bernama Balai Pelatihan Ketrampilan Teknik Kejuruan (BPKPT) dibawah Biro Bintal Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan telah bertahun-tahun melayani siswa praktik SMK. Sedangkan sejak tahun 2004 berubah bentuk menjadi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Dikmenti Provinsi DKI Jakarta sesuai dengan Surat Keputusan No. 118 tahun 2004 yang di tandatangani oleh Gubernur DKI Jakarta, akan tetapi program diklat keahlian teknik pemesinan dalam melayani praktik siswa SMK telah berjalan lebih dari dua puluh tahun, walau nama instansinya telah berubah tapi esensinya masih tetap sama yaitu melayani siswa SMK praktik pada BPPK yang ada dimasing-masing wilayah penyelenggara, peranannya dirasakan semakin penting karena hampir dipastikan tidak setiap SMK yang berdiri mampu memiliki peralatan praktik sesuai dengan kebutuhan yang di inginkan dunia usaha atau dunia industri.  Akan tetapi BPKPT atau BPPK yang ada saat ini belum di maksimalkan pemanfaatannya oleh SMK yang berada di DKI Jakarta, banyak hal yang perlu dikondisikan dan didiskusikan peranannya di masa yang akan datang.  Banyak alternatif pengembangan yang telah dirumuskan diantaranya hasil rapat kerja antar BPPK pada bulan Desember tahun 2004, dirumuskan program ke depan BPPK Provinsi DKI Jakarta dengan penyusunan rencana program bersama, untuk;
Jangka Menengah
Melengkapi peralatan praktik sesuai dengan tuntutan kompetensiTempat Uji Kompetensi dan SertifikasiPusat belajar guru SMK (Teacher Learning Center)Community collegeOutlet pemasaran tamatan (BKK)Jangka panjang
Pengembangan model pengajaran materi produktifLembaga sertifikasi kompetensiSebagai pusat pelatihan (Regional Center) dan pendidikan tamatan SMK maupun masyarakat umum.Tempat kegiatan pelatihan dan pendidikan tenaga-tenaga tingkat madya yang sesuai dengan tuntutan dunia usaha dan industri baik tingkat nasional maupun regional, dalam mengisi tenaga yang siap pakai.Keahlian Teknik Pemesinan
Teknik Pemesinan atau Teknik Mekanik adalah ilmu teknik mengenai aplikasi dari prinsip fisika untuk analisa, desain, manufaktur dan pemeliharaan sebuah sistem mekanik. Ilmu ini membutuhkan pengertian mendalam atas konsep utama dari cabang ilmu mekanik, kinematik, termodinamik dan energi. Ahli atau pakar dari teknik mesin biasanya disebut sebagai insinyur (teknik mesin), yang memanfaatkan pengertian atas ilmu teknik ini dalam mendesain dan menganalisa pembuatan kendaraan, pesawat, pabrik industri, peralatan dan mesin industri dan lain sebagainya. teknik mesin biasanya terdiri dari konstruksi, konversi energi dan metalurgi.
Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (diklat) berbagai program keahlian yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan kerja. Program keahlian tersebut dikelompokkan menjadi bidang keahlian sesuai dengan kelompok bidang industri atau usaha atau profesi.
Penamaan bidang keahlian dan program keahlian pada Kurikulum SMK Edisi 2004 dikembangkan mengacu pada nama bidang dan program keahlian yang berlaku pada Kurikulum SMK Edisi 1999. Jenis keahlian baru diwadahi dengan jenis program keahlian baru atau spesialisasi baru pada program keahlian yang relevan. Jenis bidang dan program keahlian ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.
Program produktif adalah kelompok mata diklat yang berfungsi membekali peserta didik agar memiliki kompetensi kerja sesuai standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Dalam hal SKKNI belum ada, maka digunakan standar kompetensi yang disepakati oleh forum yang dianggap mewakili dunia usaha/industri atau asosiasi profesi. Program produktif bersifat melayani permintaan pasar kerja, karena itu lebih banyak ditentukan oleh dunia usaha/industri atau asosiasi profesi. Program produktif diajarkan secara spesifik sesuai dengan kebutuhan tiap program keahlian.
Tujuan Program Keahlian Teknik Pemesinan
a)    Membekali peserta didik dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap agar kompeten;b)    Bekerja baik secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada di dunia usaha dan dunia industri sebagai tenaga kerja tingkat menengah dalam bidang Teknik Pemesinan;c)    Memilih karir, berkompetisi, dan mengembangkan sikap profesional dalam Program Keahlian Teknik Pemesinan ;d)    Melanjutkan pendidikan bagi yang berminat.Program keahlian ini menyiapkan lulusan untuk mampu:
a)    Merancang dan mengerjakan proses manufaktur mekanik, baik dengan menggunakan mesin-mesin konvensional maupun CNC dengan berpedoman pada quality, cost, dan delivery.b)    Mempunyai pengetahuan yang mencukupi dan keahlian praktis untuk berbagai macam proses manufaktur dibidang mekanik, peralatan perkakas presisi, membuat rancangan untuk komponen maupun unit mesin secara manual maupun dengan CNC.c)    Memiliki prinsip-prinsip kewirausahaan dan siap beradaptasi dengan kemajuan teknologi.d)    Berkepribadian mantap, mandiri, mampu bekerjasama dan bertanggung jawab.Program Keahlian Teknik Pemesinan menyiapkan lulusannya benar-benar kompeten didalam bidangnya. Dengan berbekal kemampuan dan pengetahuan, diharapkan para lulusan mampu untuk:
a.    Bekerja sebagai mekanik pada perusahaan yang bergerak dibidang Industri mesin dan mekanik umum baik yang menggunakan teknologi konvensional maupun CNC.b.    Bekerja diperancangan atau pembuatan perkakas-perkakas secara presisi.c.    Memprogram pengerjaan dengan mesin-mesin CNC;d.    Bekerja sebagai trainer atau instruktor dalam hal keahlian teknik  permesinan.e.    Mengerjakan pekerjaan maintenance dan Quality Control (QC)f.    Berwirausaha.Penelitian yang Relevan
Seperti di uraian di atas bahwa evaluasi program dalam penelitian ini berkaitan pula dengan kinerja guru di BPPK Provinsi DKI Jakarta, maka untuk meninjau relevansinya dengan penelitian lain tidak dibatasi dengan komponen CIPP saja.
Kemal, Mustafa. 2005. Hubungan Kreatifitas dan Kepuasan Kerja dengan Kinerja Guru di Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan (BPPK) Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi Propinsi DKI  Jakarta, Tesis: UHAMKA Jakarta. Dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa hubungan antara kreativitas dan kinerja adalah positif dan cukup berarti dari hasil perhitungan dengan menggunakan koefesien korelasi parsial. Hubungan kreativitas dengan kinerja adalah signifikan (ry1.2=0,409). Untuk hubungan antara kepuasan kerja dan kinerja adalah positif dan cukup berarti dari masih dengan perhitungan dengan menggunakan koefesien korelasi parsial, hubungan kepuasan kerja dengan kinerja adalah signifikan (ry2.1.=0,580).  Selanjutnya hubungan  antara kreativitas dan kepuasan kerja dengan kinerja adalah positif dan kuat melalui perhitungan koefesien korelasi berganda, hubungan kreativitas dan kepuasan kerja dengan kinerja adalah signifikan (R=0,699).
Penelitian Evaluasi ini adalah termasuk jenis penelitian ekperimental. Danim (2002) menyebutkan beberapa karakteristik penelitian eksperimental, yaitu, (1) Variabel-veniabel penelitian dan kondisi eksperimental diatur secara tertib ketat (rigorous management), baik dengan menetapkan kontrol, memanipulasi langsung, maupun random (rambang). (2) Adanya kelompok kontrol sebagai data dasar (base line) untuk dibandingkan dengan kelompok eksperimental. (3) Penelitian ini memusatkan diri pada pengontrolan variansi, untuk memaksimalkan variansi variabel yang berkaitan dengan hipotesis penelitian, meminimalkan variansi variabel pengganggu yang mungkin mempengaruhi hasil eksperimen, tetapi tidak menjadi tujuan penelitian. Di samping itu, penelitian ini meminimalkan variansi kekeliruan, termasuk kekeliruan pengukuran. Untuk itu, sebaiknya pemilihan dan penentuan subjek, serta penempatan subjek dalarn kelompok-kelompok dilakukan secara acak. (4) Validitas internal (internal validity) mutlak diperlukan pada rancangan penelitian eksperimental, untuk mengetahui apakah manipulasi eksperimental yang dilakukan pada saat studi ini memang benar-benar menimbulkan perbedaan. (5) Validitas eksternalnya (external validity) berkaitan dengan bagaimana kerepresentatifan penemuan penelitian dan berkaitan pula dengan penggeneralisasian pada kondisi yang sama. (6) Semua variabel penting diusahakan konstan, kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.
Model Riset Evaluasi
Riset yang dilakukan menggunakan metodologi action research untuk meningkatkan kerangka kerja dalam penerapan data dimana obyek tersebut menjadi kajian penelitian. Action research adalah jenis metodologi riset yang dilakukan dengan secara aktif terjun langsung pada pemberi kebijakan yang akan diteliti, dalam hal ini, penulis ikut bekerja di dalam Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan. Teknik yang dilakukan dengan cara:
mengobservasi praktisi Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruanaction learninginterview tak terjadwal, danstudi informasi yang tersimpan.Dengan melakukan action learning, penulis membuat dokumentasi terhadap setiap interaksi dengan kegiatan di Balai Pelatihan Pendidikan Kejuruan.  Untuk kriteria evaluasi kinerja,  riset yang penulis lakukan  adalah membuat kerangka evaluasi yaitu:
Selalu mencari cara untuk   mengatasi latar belakang masalah sesegera mungkin.Selalu mencari cara untuk meningkatkan framework yang sudah ada untuk menunjukkan bahwa riset memiliki hasil yang menguntungkan.Terdapat banyak model evaluasi program yang digunakan para ahli. Salah satunya adalah model CIPP (Context – input – Process – Product). Model ini dikembangkan oleh Stufflebeam, model CIPP oleh Stufflebeam 1971 (dari Ward Mitchell Cates, 1990) . Model CIPP (1971) melihat kepada empat dimensi yaitu dimensi Konteks, dimensi Input, dimensi Proses dan dimensi Produk.
Keunikan model ini adalah pada setiap tipe evaluasi terkait pada perangkat pengambil keputusan (decission) yang menyangkut perencanaan dan operasional sebuah program. Keunggulan model CIPP memberikan suatu format evaluasi yang komprehensif pada setiap tahapan evaluasi yaitu tahap konteks, masukan, proses, dan produk. Untuk memahami hubungan model CIPP dengan pembuat keputusan dan akuntabilitas dapat diamati pada visualisasi sebagai berikut:

Tipe Evaluasi
Konteks
Input
Proses
Produk
Pembuat Keputusan
Obyektif
Solusi strategi desain prosedur
Implementasi
Dihentikan Dilanjutkan Dimidifikasi Program Ulang
Akuntabilitas
Rekaman Obyektif
Rekaman pilihan strategi desain dan desain
Rekaman Proses Aktual
Rekaman pencapaian dan keputusan ulang
Evaluasi konteks mencakup analisis masalah yang berkaitan dengan lingkungan program atau kondisi obyektif yang akan dilaksanakan. Berisi tentang analisis kekuatan dan kelemahan obyek tertentu. Stufflebeam menyatakan evaluasi konteks sebagai fokus institusi yang mengidentifikasi peluang dan menilai kebutuhan (1983). Suatu kebutuhan dirumuskan sebagai suatu kesenjangan (discrepancy view ) kondisi nyata (reality) dengan kondisi yang diharapkan (ideality). Dengan kata lain evaluasi konteks berhubungan dengan analisis masalah kekuatan dan kelemahan dari obyek tertentu yang akan atau sedang berjalan. Evaluasi konteks memberikan informasi bagi pengambil keputusan dalam perencanaan suatu program yang akan on going. Selain itu, konteks juga bermaksud bagaimana rasionalnya suatu program. Analisis ini akan membantu dalam merencanakan keputusan, menentapkan kebutuhan dan merumuskan tujuan program secara lebih terarah dan demokratis. Evaluasi konteks juga mendiagnostik suatu kebutuhan yang selayaknya tersedia sehingga tidak menimbulkan kerugian jangka panjang ( Isaac and Michael:1981)
Evaluasi input meliputi analisis personal yang berhubungan dengan bagaimana penggunaan sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif strategi yang harus dipertimbangkan untuk mencapai suatu program. Mengidentifikasi dan menilai kapabilitas sistem, anternatif strategi program, desain prosedur untuk strategi implementasi, pembiayaan dan penjadwalan. Evaluasi masukan bermanfaat untuk membimbing pemilihan strategi program dalam menspesifikasikan rancangan prosedural. Informasi dan data yang terkumpul dapat digunakan untuk menentukan sumber dan strategi dalam keterbatasan yang ada. Pertanyaan yang mendasar adalah bagaimana rencana penggunaan sumber-sumber yang ada sebagai upaya memperoleh rencana program yang efektif dan efisien.
Evaluasi proses merupakan evaluasi yang dirancang dan diaplikasikan dalam praktik implementasi kegiatan. Termasuk mengidentifikasi permasalahan prosedur baik tatalaksana kejadian dan aktifitas. Setiap aktivitas dimonitor perubahan-perubahan yang terjadi secara jujur dan cermat. Pencatatan aktivitas harian demikian penting karena berguna bagi pengambil keputusan untuk menentukan tindak lanjut penyempurnaan. Disamping itu catatan akan berguna untuk menentukan kekuatan dan kelemahan atau program ketika dikaitkan dengan keluaran yang ditemukan. Tujuan utama evaluasi proses seperti yang dikemukakan oleh Worthen and Sanders(1973), yaitu:
a.    Mengetahui kelemahan selama pelaksanaan termasuk hal-hal yang baik untuk dipertahankan,b.    Memperoleh informasi mengenai keputusan yang ditetapkan, danc.    Memelihara catatan-catatan lapangan mengenai hal-hal penting saat implementasi dilaksanakan.Evaluasi produk merupakan kumpulan deskripsi dan “judgement outcomes” dalam hubungannya dengan konteks, input, dan proses, kemudian di interprestasikan harga dan jasa yang diberikan ( Stuflebeam and Shinkfield : 1986). Evaluasi produk adalah evaluasi mengukur keberhasilan pencapaian tujuan. Evaluasi ini merupakan catatan pencapaian hasil dan keputusan-keputuasan untuk perbaikan dan aktualisasi. Aktivitas evauasi produk adalah mengukur dan menafsirkan hasil yang telah dicapai. Pengukuran dkembangkan dan di administrasikan secara cermat dan teliti. Keakuratan analisis akan menjadi bahan penarikan kesimpulan dan pengajuan saran sesuai standar kelayakan. Secara garis besar, kegiatan evaluasi produk meliputi kegiatan penetapan tujuan operasional program, kriteria-kriteria pengukuran yang telah dicapai, membandingkannya antara kenyataan lapangan dengan rumusan tujuan, dan menyusun penafsiran secara rasional.
Analisis produk ini diperlukan pembanding antara tujuan, yang ditetapkan dalam rancangan dengan hasil program yang dicapai. Hasil yang dinilai dapat berupa skor tes, prosentase, data observasi, diagram data, sosiometri dan sebaginya yang dapat ditelusuri kaitanya dengan tujuan-tujuan yang lebih rinci. Selanjutnya dilakukan analisis kualitatif tentang mengapa hasilnya seperti itu.
Keputusan-keputusan yang diambil dari penilaian implementasi pada setiap tahapan evaluasi program diklasifikasikan dalam tiga katagori yaitu rendah, moderat, dan tinggi.
Model CIPP merupakan model yang berorientasi kepada pemegang keputusan. Model ini membagi evaluasi dalam empat macam, yaitu:
Evaluasi konteks melayani keputusan perencanaan, yaitu membantu merencanakan pilihan keputusan, menentukan kebutuhan yang akan dicapai dan merumuskan tujuan program.Evaluasi masukan untuk keputusan strukturisasi yaitu menolong mengatur keputusan menentukan sumber-sumber yang tersedia, alternatif-alternatif yang diambil, rencana dan strategi untuk mencapai kebutuhan, serta prosedur kerja untuk mencapai tujuan yang dimaksud.Evaluasi proses melayani keputusan implementasi, yaitu membantu keputusan sampai sejauh mana program telah dilaksanakan.  Evaluasi produk untuk melayani daur ulang keputusan. Keunggulan model CIPP merupakan system kerja yang dinamis.Keempat macam evaluasi tersebut divisualisasikan sebagi berikut:

Model CIPPBentuk pendekatan dalam melakukan evaluasi yang sering digunakan yaitu pendekatan eksperimental, pendekatan yang berorientasi pada tujuan, yang berfokus pada keputusan, berorientasi pada pemakai dan pendekatan yang responsive yang berorientasi terhadap target keberhasilan dalam evaluasi.
Jenis  konsep evaluasi diantaranya ; yaitu evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan selama program itu berjalan untuk memberikan informasi yang berguna kepada pemimpin program untuk perbaikan program. Sedangkan evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program untuk memberikan informasi konsumen tentang manfaat atau kegunaan program.
Bentuk kegiatan dalam evaluasi adalah evaluasi internal dan eksternal. Evaluasi internal dilakukan oleh evaluator dari dalam proyek sedangkan eksternal dilakukan evaluator dari luar institusi.
Komponen Evaluasi Program
Menurut Arikunto (1999: 290) “Evaluasi program adalah suatu rangkaian kegiatan yang dilakukan dengan sengaja untuk melihat keberhasilan program”. Ada beberapa pengertian tentang program itu sendiri, diantaranya program adalah rencana dan kegiatan yang direncanakan dengan seksama. Jadi dengan demikian melakukan evaluasi program adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat keberhasilan dari kegiatan yang direncanakan. Yang menjadi titik awal dari kegiatan evaluasi program adalah keingintahuan penyusun program untuk melihat apakah tujuan program sudah tercapai atau belum. Jika sudah tercapai bagaimana kualitas pencapaian kegiatan tersebut, jika belum tercapai bagaimanakah dari rencana kegiatan yang telah dibuat yang belum tercapai, apa sebab bagian rencana kegiatan tersebut belum tercapai, adakah faktor lain yang mempengaruhi ketidakberhasilan program tersebut.
Untuk menentukan seberapa jauh target program sudah tercapai, yang menjadikan tolak ukur adalah tujuan yang sudah dirumuskan dalam tahap perencanaan kegiatan sebelumnya. Sasaran evaluasi adalah untuk mengetahui keberhasilan suatu program. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Ansyar (1989: 134) bahwa “evaluasi mempunyai satu tujuan utama yaitu untuk mengetahui berhasil tidaknya suatu program.”
Model CIPP yang dikembangkan oleh Stuflebeam and Shinkfield (1986), yang memfokuskan kepada empat komponen evaluasi yaitu; komponen konteks, komponen input, komponen proses dan komponen produk perlu ditinjau dan di evaluasi sampai sejauhmana efektivitasnya.
Efektifitas dipahami sebagai rangkaian proses dan produk untuk melakukan hal-hal yang tepat atau menyelesaikan sesuatu dengan pas (Stonner, Freeman, dan Gilbert: 1995). Secara operasional, efektivitas dipahami sebagai suatu kondisi yang menampilkan tingkatan keberhasilan suatu program sesuai standar yang sudah ditetapkan (Koontz dan Weilirch: 1988). Cara untuk mengetahui tingkatan efektivitas dilakukan dengan mengukur komponen konteks, input, proses dan produk kemudian dibandingkan dengan standar objektif yang ditetapkan. Efektivitas dikategorikan pada tingkatan rendah, moderat dan tinggi.
Atas dasar masalah penelitian dan landasan teori serta deskripsi program, maka dibangun suatu kerangka acuan yang melibatkan empat komponen evaluasi model CIPP. Keempat komponen evaluasi memiliki cakupan konseptual yang merupakan sumber rujukan pengembangan ke arah indikator penelitian.
1. Komponen Konteks
Komponen konteks berisi tentang analisis yang berkaitan dengan lingkungan program. Termasuk didalamnya analisis kekuatan dan kelemahan objek tertentu. Stufflebeam menyatakan evaluasi konteks sebagai fokus institusi yaitu mengidentifikasi peluang dan menilai kebutuhan. Dalam kaitannya dengan program diklat keahlian teknik pemesinan dipandang dari tiga poin penting yaitu:
a.    Tujuan, landasan, dan pembinaan program, mencakup analisis tujuan, landasan hukum dan pembinaan program diklat keahlian teknik pemesinan dari tingkat pusat hingga pelaksanaan di wilayah. Kemudianb.    Studi kelayakan pada balai yang mencakup kekuatan, kelemahan, dan peluang serta ancaman yang dimiliki BPPK sebagai penyelenggara.2. Komponen Input
a. Siswa.iswa peserta diklat keahlian teknik pemesinan adalah siswa yang   telah membekali dirinya dengan kompetensi dasar berupa kompetensi kerja bangku yang dipersyaratkan oleh kelompok bidang keahlian teknologi dan industri.b. Guru praktik. Guru praktik di bengkel kerja merupakan guru khusus yang diseleksi dengan beberapa kriteria, seperti: tingkat pendidikan S1, mengajar praktik  sesuai bidangnya, pengalaman mengajar sekurangnya lima tahun pada bengkel kerja.c. Kurikulum. Kurikulum berisi pilihan sub kompetensi yang dirancang diselesaikan pada setiap jenjang kompetensi. Strategi belajar diarahkan pada belajar tuntas dengan memperhatikan keselarasan dan keseimbangan  secara terpadu.d. Sarana dan prasarana.Keberadaan sarana dan prasarana perlu dilihat kelayakannya sehingga memiliki daya dukung pada pelaksanaan program diklat keahlian teknik pemesinan secara memadai. Indikator – indikator yang dapat dijabarkan meliputi; Prasarana ruang praktik, ruang bengkel kerja, kantin, aula, toilet. Sarana pendukung praktik meliputi: sumber belajar, media belajar , peralatan praktik dan job sheet.e. Kalender Akademik. Kalender Akademik program diklat keahlian teknik pemesinan yang dijadikan pedoman kegiatan selama dua tahun perlu untuk dikaji efektivitasnnya.3. Komponen  Proses
Kegiatan pembelajaran dibengkel kerja selama siswa praktik, dengan Indikatorp-indikatornya adalah sebagai berikut:(a) Presensi, (b) penampilan, (c) penguasaan kelas, (d) penguasaan materi praktik, (e) kemampuan menyajikan, (f) sistematika penyajian, (g) penggunaan bahasa,(h) pemilihan metode dan media, (i) simpati, gaya dan sikap terhadap siswa, (j) penampilan, (k) pemberian motivasi, (l) cara menjawab pertanyaan siswa, (m) kerjasama dengan siswa, (n) intensitas tugas, (o) alat evaluasi, (p) umpan balik
4. Komponen  Produk
a.    Nilai    kompetensi    dasar   untuk   kompetensi kerja bangku, Untuk mengungkap efektivitas produk program keahlian teknik diperlukan nilai kompetensi dasar kerja bangku, untuk analisis dasar dimulainya penjenjangan kompetensi berikutnya.b.    Hasil ujian kompetensi keahlian (UUK) nasional, Untuk mengungkapkan korelasi kompetensi dasar yang dimiliki siswa, dengan kompetensi yang dipersyaratkan pada program diklat keahlian teknik pemesinan.c.    Ujian Akhir Nasional SMK yang praktik di BPPK. Dimanfaatkan untuk mengukur secara keseluruhan keberhasilan siswa kaitannya dengan program keahlian yang ditempuhnya.http://bppk-jakpus.edu2000.org/index.php?option=com_content&task=view&id=347&Itemid=312

Categories: BPPK Jaktim
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: