Home > PESONA DAKWAH > Agar Bidadari Cemburu Padamu

Agar Bidadari Cemburu Padamu

Bukan dari tulang ubun ia dicipta
Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki
Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak

Tetapi dari rusuk kiri
Dekat ke hati untuk dicintai
Dekat ke tangan untuk dilindungi

Subhanallah….indah dan begitu dalam maknanya….
Inilah salah satu yang ditulis dalam buku “Agar Bidadari Cemburu Padamu” karya Salim A(Akhukum) Fillah. Sebuah buku yang cukup menarik…..sarat dengan nasehat dan ibroh yang bisa diambil….penggalan-penggalan siroh nabawiyah….sungguh luar biasa….generasi terbaik dimasa Rasulullah….

Dari buku ini dituliskan bagaimana Bilal (seorang budak kesayangan Rasul dan sekaligus muadzin kesayangan beliau) saat melamarkankan putrinya….apaibal diterima maka disucapkanlah kalimat Subhanallah…dan apabila ditolak maka diucapkanlah Allahu Akbar karena Allah yang Maha besar dengan segala sekenario kehidupan ini.

Disebutkan pula kiat-kiat bagaimana seorang wanita dunia bisa membuat para bidadari disurga cemburu dengan segala keistimewaan yang telah Allah berikan kepada wanita dunia…..sungguh Allah Maha Besar…..

Tapi yang jelas….anak ini (hehehe aku sebut anak karena dia berumur jauh dibawahku) buat aku iri…..kapan yaaaah aku bisa buat buku kaya dia…..????!!

Hope some day God give me easyness Amiiin.

Kalo boleh kasih saran buat Anda-anda para ikhwan…yang mengaku dirinya laki-laki muslim, hadiahkan buku ini untuk orang yang sangat Anda kasih dan sayangi like mother, sister, n yang pasti istri Anda…..

Aku sebagai perempuan akan sangat bahagia jikalau suamiku nanti menghadiahkan buku-buku yang sarat makna untukku🙂 Doain yah…moga-moga suamiku ngerti apa yang aku sukai dan apa yang ga aku sukai….dan begitu pula aku, tau apa yang disukai dan tidak disukainya…..

(??? ah jadi sedikit berangan)

Ini tulisan pembuka dari sang penulis…..

Bacalah dengan Asma Rabbmu yang Telah Mencipta: Agar Bidadari Cemburu Padamu

Ba’da tahmid, syahadat, dan shalawat.
Agar bidadari cemburu padamu. Lagi-lagi, saya harus berpikir lama ketika diminta menulis buku ini. Pantaskah?

Ini bukan soal pantas atau tidak pantas, kata seorang rekan menasehati. Ini soal tanggung jawab di hadapan Allah atas terbingungkannya masyarakat oleh berbagai bacaan, buku, maupun guliran wacana yang marak bertebar. Ya, logika berpikir massa rusak, pandangannya tentang tata nilai kacau, opini-opininya rancu, dan caranya menyikapi realita tak lagi sehat. Hanya karena tulisan. Tulisan yang mengatasnamakan ‘fakta berbicara’, ‘inilah kenyataan di lapangan’, ‘apa mau dikata beginilah realitanya’, dan ‘jangan bawa-bawa agama!’, sekedar untuk menjaja kemurkaan Allah.

Masih banyak orang shalih, lanjut beliau. Tetapi tak banyak di antara mereka yang memperjuangkan agar keshalihan menjadi jamak. Banyak yang apatis. Banyak yang sekedar mencukupkan diri bershalih ria di dalam mihrabnya dan tak merasa mengganggu dan terganggu atas polah orang lain. Lalu siapa yang akan menjadi golongan terselamatkan, sementara apatisme telah mengubah pernyataan kepada mereka sejak ribuan tahun lalu?

“Dan ingatlah ketika suatu ummat (yang apatis) di antara mereka berkata, “Buat apa kalian peringatkan kaun yang Allah sendirilah yang akan membinasakan atau mengadzab mereka dengan’adzab yang sanga?”. Mereka (para pencegah kemungkaran) berkata,”(Peringatan itu) sebagai alas an pelepas tanggung jawab di hadapan Robb kalian, dan agar mereka (orang-orang yang bermaksiat) bertaqwa. Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan buruk, dan Kami siksa orang-orang yang dzalim dengan ‘adzab yang keras sebab mereka fasiq adanya.” (Al A’raaf 164-165)

Jadi?Sederhana. tetaplah menulis keagungan dan kemuliaan Islam yang mungkin oleh mata-mata putus asa dipandang sebagai idealisme tanpa bukti!

Subhanallah!, kata saya. Padahal, demi Allah, Islam hidup aktif, bergerak, dan berdetak dalam keseharian manusia-manusia yang hari-hari mulai kembali tertampilkan. Kibaran jilbab, kejujuran, kesantunan kemuliaan akhlak, penjagaan, nilai-nilai Ilahiah. Segalanya.

Sulit mungkin bagi jiwa-jiwa kerdil memahami gharib (asing) mereka. Sulit mungkin bagi yang bermental ayam negeri untuk bias hidup dengan standar-standar mereka. Tetapi saya akan tetap menuliskannya. Karena, demi Allah, masih banyak akal-akal sehat yang siap menerima kebenaran. Karena, demi Allah sya tau pasti: dalam relung kejujuran yang paling dalam, semua manusia merindukannya.

Manfaat, hanya kata itu yang bias diandalkan. Pun tentang tulisan. Buku isi busuk, papar bejat, argument kuwur, dan logika dengkur memang banyak. Membludak mebanjiri etalase mewah bak banjir bah.

Tetapi tetap saja, banjir itu Cuma buih….

“…Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia akan tetap tinggal di bumi…..”(Ar Ra’d 17)

Lagi-lagi, ini dulu baru itu

Sekali lagi, saya harus memohon maaf kepada saudara-saudara saya yang telah lama menanti, mencari-cari, bahkan berkeliling took buku untuk menanyakan buku Saksikan Bahwa Aku seorang Muslim yang telah saya janjikan untuk dihadirkan ke hadapan mereka. ‘Afwan Jiddan! Tak kurang sms, e-mail, juga todongan pertanyaan lisan yang telah saya terima. Bahkan beberapa belum sempat saya jawab. Astaghfirullahal’Adhim.

Mohon doa restu, agar buku itu bias segera dihadirkan. Mudah-mudahan nantinya, ia muncul di saat yang paling tepat di episode perbaikan diri kita. Segalanya berkait dengan tingkat kemusykilan editingnya, karena buku itu membahas komprehensivitas hal yang mendasar, ‘aqidah. Sedang buku ini, Agar Bidadari Cemburu Padamu, justru-lagi-lagi- hadir lebih awal ke hadapan anda.

Lagi-lagi, ini dulu baru itu.

Buku ini menyapa dengan bahasan tentang wanita shalihah yang kita rindu kehadirannya untuk menjadi matta’ (penghadir dan perasa kesenangan) sejati, di dunia dan akhirat. Bukankah sudah banyak dan komposisi yang berbeda, selalu akan menginspirasikan hal berbeda. Pastinya, ia ingin mengajak kita bicara, menjelaskan pemuliaan Islam terhadap wanita dan pembebasannya dari dua kutub kekejian: belenggu kurungan dan umbar pertontonan. Sudah banyak kan yang sejenis?Tetapi saya mencoba untuk selalu membawakan sentuhan rasa dalam suasana yang berbeda. Soal judulnya, saya dengan ada beberapa rekan yang sudah tergelitik, “Apa iya bidadari bisa cemburu?”

Dari Mu’adz ibn Jabal, ia Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam bersabda, “Tiada seorang istri menggodai suaminya, melainkan bidadari calon istrinya di surga berkata:’Jangan ganggu dia, semoga Allah membunuhmu…Ia hanya sementara ada di sisimu dan hamper meninggalkanmu ntuk kembali kepada kami.”(HR At Tirmidzi)

Mungkin tak begitu tepat mengaitkan peristiwa yang sekaligus terjadi di bumi dan langit ini dengan didikan untuk membentuk pribadi shalihah. Karena jata yu’dzi yang diterjemahkan menggodai dalam hadist ini, bisa juga berarti mengganggu dan menyakiti. Tetapi, sekali lagi, Al Akh Muhammad Fanni Rahman yang meminta judul ini digunakan, jauh mengerti bahasa da’wah daripada saya. Kepada beliau, tanggung jawab atas penggunaan judul ini saya limpahkan, Jazakallahu khairan.

Pada pembahasan selanjutnya, logika yang dipakai adalah bahwa bidadari cemburu kepada wanita dunia, karena wanita dunia unggul atas mereka. Keunggulan yang digambarkan Rasullullah sebagai kelebihan yang tampak atas sesuatu yang tidak terlihat.
Aku bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?” Beliau menjawab,”Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat.” Aku bertanya,”Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama dari bidadari?” Beliau menjawab,”Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata,”Kami hidup abadai dan tida mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami selaki mendampingi dan tidak beranjak sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.”(HR AthThabrani, dari Ummu Salamah)

Pada lintasan hidup kita, mencipta kecemburuan bidadari tak hanya di saat suami sudah ada disisi. Ia dimulai dari awal masa taklif (pembebanan tugas dari Allah kepada hambaNya) sebagai wanita, atau bahkan jauh sebelumnya. Maka mempersiapkannya sejak saat ini, berapapun usia anda, adalah langkah tepat yang memang seharusnya dilakukan. Tetapi soal harus tidaknya membaca buku ini, itu pilihan. Iya kan?

Seorang ukhti dari Fakultas Hukum UGM pernah bercerita dalam suatu forum kajian. Ia ditertawakan teman-temannya karena membaca buku saya, “Akhwat haraki (aktivis) kok bacaannya kayak gitu?”

Ternyata ada sementara anggapan, bahwa tulisan saya adalah konsumsi ‘gaul’ saja, dan buka untuk para aktivis yang biasa bergelut dengan dunia da’wah. Tetapi sungguh cerdas seorang Akh dari Fakultas Teknologi Pertanian, bahwa membaca buku terkadang bukanlah konsumsi pribadi, tetapi bagaimana menda’wahkannya pada orang lain dengan bahasa mereka. Juga, siapa yang bias menjamin kita selalu istiqomah?Kadang, jeweran bahasa awam jauh lebih mengena dearipada nasihat yang muluk. Dan bukankah hikmah adalah milik mukmin yang hilang? Maka dimanapun ia metemukannya, ia yang paling berhak atasnya.

Nyatanya, seorang Akh dari Biologi, berkomentar atasbuku saya, “Bahasa gaul berhujjah mantap!”.Meski kemudian yang tak terbiasa membaca dalil akan berkata, “ini kok isinya ayat semua sih….”, seperti yang pernah saya dengar. Ah, itulah. Saya memang sedang belajar dan akan terus belajar.

Rifqan bil Qawatiir, Lembutlah pada gelas-gelas kaca

Ketika SMU –mungkin sekarang masih sedikit, he he – saya dikenal sebagai orang yang berperangai kasar lagi berhati keras. Saya sih berharap jauh, tapi mungkin ianya mendakati criteria fazhazhan ghalizhal qalbi, bahkan terutama pada akhwat. Astaghfirullahal’Adhim. Hanya karena teman-teman tidak tega saja, mungkin sehingga mereka tidak menggelari saya Si Penumpah Airmata.

Maka kini, saya mencoba untuk belajar menghayati hadist ini.
“Selalu wasiatkan kebaikan kepada para wanita. Karena mereka diciptakan dari tulang rusuk, dan bagian yang paling bengkok dari jalinan tulang rusuk ialah tulang rusuk bagian atas. Jika kalian paksa diri untuk meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika kalian mendiamkannya, ia akan tetap bengkok. Karena itu, wasiatkanlah kebaikkan kepada para wanita.” (HR Al Bukhari, dari Abu Hurairah) Nanti akan anda temukan penjelasan, insyaAllah, bahwa selalu dinasehati tak berarti banyak salahnya. Adi jangan su’uzhzhan pada hadist ini. Ingat surat Al ‘Ashr kan? Justru rugi kalau hidup tidak diisi dengan saling mengingatkan.

Buku ini, dengan segala kekurangannya, ketakruntutannya, dan alur logikanya yang kurang berbentuk bagi mereka yang terbiasa berpikir sistematis, yang ada pada masing-masing kita dengan pemantiknya. Melalui ayat, hadist, atsar, kisah, sya’ir, dan nasyid yang tak beraturan barangkali.

Memang begitu. Selalu saya ingin katakan bahwa gaya menulis saya adalah gaya petani tak bermodal yang menanam biji apa saja yang ditemuinya di lahan, tanpa pembaian. Bukan gaya petani kaya yang mengkhususkan tanah ini untuk tumbuhan ini dan tanah itu untuk tanaman itu.

Ini berkaitan dengan keterbatasan ilmu saya, tentu. Tetapi saya berharap bahwa para pengunjung tulisan saya menemukan sesuatu yang tak terduga, mengejutkan, aneh, dan beraneka. Semua agar pemantik api keshalihan segera bertemu dengan sumbunya, terutama pada diri saya, penulisnya.

Syukur pada Allah dan shalawat atas RasulNya atas terselesaikannya buku ini. Alhamdulillah. Semoga syukur yang taks eberapa dibanding nikmatNya ini, terus dan terus menjadi sebab bertambahnya nikmat pada kita, La insyakartum la Azidannakum. Ta’dhim pada bapak Ibu yang bertambah hari kian memahami aktivitas puteranya.

Kepada rekan-rekan di Sadang Serang, Bandung, jazakumullahu khairan atas segalanya. Evan (buku antum tak tunggu!), Brama (tjakra.teladan.net-nya digarap ya), Dana, Thoha, atas tumpangannya. Panggi, Aul, yang kena tilang, yang pecah spionnya waktu ngantar-ngantar, ‘afwan banget, merepotkan. Semua rekan di bandung, syukron atas ukhuwahnya, Irawan, Irfree, Dhea, Igun, Suryo, semuanya. Antum kan banyak, jadi tak sebut perwakilannya saja.

Angkatan 2002, SMUN 1 Yogyakarta, saya tak tahu lagi harus mengatakan apa. Betapa semua tulisan saya tak lepas dari inspirasi, kenangan bersama antum semua. Di ruang OSIS yang penuh cerita :Bayu, Denis, Egha, Mba’Erlin, Mba’Ambar, Mba’Dinna, semuanya.

Dan setiap sudut SMU 1, Akh Aldi di lantai 2, Atma di pojok tenggara, Huda di depan Lapket, dan primus-primus di Musholla Al Uswah yang kini sudah tiada (soalnya sudah jadi masjid), dan semuanya. Di mana da’wah mengelompokkan kuncup yang mekar jadi bunga.

Allahu Akbar!

Untuk nasyiders Fathul Jihad yang jedhug-jedhug, ‘afwan kalau nggak bisa optimal ikut latihan. untuk Nasyee’HamzaH, ‘afwan kalau nggak optimal ikut pentas di walimah. Untuk Cemara Team, ‘afwan kalau nggak bisa ikut rapat. Untk KSAI Al Uswah dan Justice Boys & Girls juga ‘afwan. Pokoknya semua ‘afwan wa jazakumullahu khairan, deh.

Kepada Mas Gun yang kata Mas Rois agak marah karena NPSP terlupa tidak disebut namanya, ini tak sebut lho Mas. Cerpen Bidadari Tak Secantik Senyummu-nya bagus. Tapi Agar Bidadari Cemburu Padamu tidak terilhami dari cerpen ini lho. Mohon jangan digugat.

Subhanallah ada banyak nama, tapi kata penerbit, pembuka ini terbatas halamannya. Yang jelas, halaman hati saya insyaAllah masih luas untuk mengingat semua keshalihan yang telah antum jadikan pelajaran hidup yang sangat berharga dalam singgahan dunia ini. Hanyalah doa selalu yang mengiring agar Allah mempertemukan kita di surgaNya. Lalu kita bertemu, dengan bidadari-bidadari. Bidadari yang sedang cemburu padamu…..

Tulisan yang membuatku rindu ke masa-masa ghiroh(semangat keislaman)ku sedang memuncak, masa-masa SMA yang tak terlupakan. Yang mengingatkanku saat liqo, mabit bersama saudara-saudaraku yang sekarang entah dimana…. Kegiatan dan aktivitasku di ROHIS dengan murobi-murobiku yang baik hati……rapat-rapatnya, bakti sosialnya, nasyid-nasyidnya….Ya Allah…ternyata aku kehilangan semua itu…sekarang hanya sebuah memory yang bisa kukenang dan kurindukan……

http://betawimuslim.blogsome.com/

Categories: PESONA DAKWAH
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: